Styrofoam domes


Gambar 1   Styrofoam Domes

(sumber : pinktentacle.com)

Styrofoam merupakan busa polystyrene yang saat ini kita kenal dan banyak digunakan untuk isolasi panas dan aplikasi lainnya. Pada tahun 1941, penelitian di laboraurium Dow menemukan suatu cara untuk membuat busa polysterene. Di bawah kepemimpinan Ray Mc Intire, mereka menemukan kembali metoda yang sebelumnya telah dirintis oleh penemu dari Swedia, yakni C.G. Munters.  Dow memperoleh hak paten untuk hasil penemuan tersebut. Karena sifat materialnya yang memiliki daya apung tinggi, material pada tahun 1942 digunakan oleh penjaga pantai Amerika Serikat untuk rakit penolong berkapasitas 6 orang.

Dalam perkembangannya, styrofoam mulai digunakan sebagai material bangunan, termasuk didalamnya untuk isolasi perpipaan dan produk-produk spesifik lainnya. Isolasi Styrofoam sudah dipakai di banyak gedung dan fasilitas penting lainnya di Amerika Utara. Styrofoam bisa dipergunakan juga di bagian bawah jalan dan struktur lainnya, untuk mencegah gangguan yang terjadi pada struktur tanah.

Styrofoam terkadang banyak diartikan sebagai material yang biasa digunakan untuk bahan kemasan barang-barang atau box makanan sekali pakai. Bentuk fisiknya berwarna putih dan terdiri dari kumpulan butiran polsttyrene menyerupai manik-manik. Hal ini sama sekali sangat berbeda dengan polystyrene yang digunakan sebagai isolasi styrofoam.

Gambar 2  Panel Styrofome

(sumber : ergodesk.wordpress.com)

Di dalam aplikasinya, Styrofoam telah dikembangkan sebagai material alternatif untuk perumahan di jepang, setara dengan kayu, besi dan beton. Sebuah perusahaan perumahan bernama Japan Dome House telah mengembangkan rumah berbentuk kubah dengan material utama styrofoam. Meskipun material plastik sebagaimana styrofoam telah banyak digunakan sebagai panel-panel untuk pendingin dalam gedung, isolasi eksterior dan elemen eksterior serta interior lainnya yang bersifat non struktural, namun tak satu pun telah direkomendasikan sebagai material struktural untuk memikul beban pada gedung.

Setelah lima tahun berunding dengan menteri pertanahan, infrastruktur dan transportasi, Japan Dome House pada tahun 2004 mendapat ijin dari kementrian tersebut untuk memasarkan bangunan berbahan dasar utama styrofoam tersebut. Produk perusahaan ini diakui sebagai material struktural styrofoam sebagai material struktural styrofoam pertama yang diakui Jepang.

Dimensi standar eksterior rumah kubah ini adalah memiliki ketinggian 3,3 meter dengan garis tengah tujuh meter. Sementara dinding-dindingnya memiliki ketebalan 20 cm, dan bobot keseluruhan strukturnya 900 kg. Total luas lantai sepadan, hingga 36 meter. Baik tembok bagian luar maupun basgian dalam didesain tahan api untuk mencegah bangunan ketika mengalami gejala kolaps.

Sekitar 10 elemen struktur yang berbeda dan bahan perekat struktural digunakan untuk membangun rumah-rumah kubah ini dalam tempo satu hati tanpa menggunakan alat-alat berat. Biaya pembangunan rumah tersebut diperkiran 25 juta yen atau 24.000 US dollar. Kalo dirupiahkan berapa ? dikali 10 rb. 240 juta ya.

Gambar 3   Suasana dalam rumah domes

(sumber : japanblog.bloguez.com)


Gambar 4  Perumahan Styrofoam domes di Jepang

(sumber : japanblog.bloguez.com)


Gambar 5  styrofoam domes

(sumber : conceptrends.com)

Gambar-gambar lain dapat dilihat di google

sumber : techno konstruksi

 

 

About sanggapramana

Mahasiswa S1 angkatan 2009 jurusan teknik sipil, Universitas Islam Sultan Agung Semarang.

Posted on 11/02/2011, in Sipil Umum. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: