Category Archives: Materi Kuliah

materi terakhir


silahkan donlod materi terakhir

1) as4 pak Rifki, mengenai frame 2D., klik di  sini

2) Rekpon bu Rinda, untuk step by step mengerjakan p-y curve., klik di sini

3) Rekpon, presentation installation Bored Pile , silahkan klik di sini

Iklan

materi AS4


materi as4 pak rifki, silahkan download disini,

mr4a.ppt

materi pelabuhan lanjutan


ini adalah materi lanjutan dari pak Imam , bagi yang belum punya materi sebelumnya silahkan donlod di sini https://sanggapramana.wordpress.com/2011/09/20/pelabuhan/

3Kapal

4alur-pelayaran

5kolampelabuhan

6Dermaga

7fender&penambat

8Fasilitas-darat-umum

Materi pondasi (ke-2)


Chapter 6 Bearing Capacity

lereng2
PONDASI DI LERENG

RAB


Materi RAB, oleh bapak Ir.Djoko Susilo Adhy, MT, dapat di download disini

RAB – 11 Okt 2011

Materi Rekayasa Lingkungan


silahkan download materi rekayasa lingkungan Dosen pengampu Dr.Ir.H Soedarsono Msi. ppt (17 MB)

Rekayasa Lingkungan.ppt

Materi Rekayasa Pondasi


Materi rekayasa pondasi  : Dosen pengampu Rifqy Brilyant ,ST,MT dapat di download di link berikut.
PondasiDangkal06 print
File di atas besarnya 28 MB, mungkin agak lama kalau di download. thx

Pelabuhan


 

 

silahkan download dengan klik huruf yang warna biru, ada 2 file dari pak imam

2Perencanaan

1Pengertian

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dasar Irigasi (Ir.Gata Dian Asfari , MT)


Silahkan didonload file dasar irigasi dibawah :

sumber AIR TANAH

3. PERENCANAAN JARINGAN IRIGASI

1. pendahuluan

KULIAH DASAR-DASAR IRIGASI

lay out

irigasi penyiraman

kuliah1

irigasi cucuran

Materi Pai 3 (Pak Soedarsono)


Silah klik disini . . . . . . .AGAMA ISLAM III. . . . . . untuk download

Materi kuliah Statistika (Prof. Dr Imam W, DEA, Ph.D)


satistik-pnlitian-jan-08

Statistik-TS-2011

regresi1

Materi kuliah bisa didownload pada link di atas

Hukum Perburuhan


Perselisihan Hubungan Industrial  ada 4 :

  1. Perselisihan kepentingan
  2. Perselisihan hak
  3. Perselisihan antar serikat pekerja dalam 1 perusahaan
  4. Perselisihan pemutusan hubungan kerja (PHK)

Dalam menyelesaikan perselisihan antara buruh dan pengusaha, ada 4 cara yang dapat ditempuh, yaitu :

  1. Bipartit
  2. Konsiliasi
  3. Arbitrasi
  4. Mediasi
  5. Pengadilan Hubungan Industrial

Bipartit : bipartit adalah penyelesaian perselihan yang  pertama kali ditempuh sebelum menggunakan cara-cara lain. Bipartit dapat disebut sebagai musyawarah dengan mempertemukan 2 pihak yang berselisih dalam 1 meja, sehingga dapat dicapainya mufakat. Apabila tercapai mufakat maka diadakan perjanjian bersama, yang karena tidak mempunyai kekuatan hukum maka didaftarkan di pengadilan. Sehingga mengikat kedua belah pihak.

Ciri-ciri lain penyelesaian dengan cara Bipartit :

  1. Penyelesaian bipartit jangka waktunya 30 hari kerja
  2. Penyelesaian Bipartit dinyatakan gagal apabila, salah satu pihak tidak mau berunding dan mau berunding tapi tidak terjadi kesepakatan.
  3. Apabila 30 hari kerja tidak tercapai kesepakatan maka salah satu atau keduabelah pihak yang berselisih mendaftarkan kepada dinas yang berwenang untuk dicatatkan. Contoh dinas =di Semarang ( Dinas ketenagakerjaan dan kependudukan ) di Jepara = Dinas ketenaga kerjaan dan transmigrasi.
  4. Pada saat mendaftarkan kepada dinas yang berwenang, disertakan dengan risalah penyelesaian secara bipartit dan dokumen-dokumen, bahwa telah diupayakan penyelesaian dengan cara musyawarah. Apabila salah satu atau kedua belah pihak tidak dapat menunjukkan risalah penyelesaian secara bipartit maka petugas memberi waktu 7 hari untuk melengkapi.

Apabila tidak terjadi kesepakatan bersama. maka pihak yang berselisih mendaftarkan permasalahan kepada pihak yang berwenang, kemudian akan ditawarkan penyelesaian dengan cara konsiliasi dan arbitrasi.

Apabila pada Bipartit telah telah terjadi perjanjian bersama, maka bersama-sama keduabelah pihak mendaftarkannya ke Pengadilan negri agar kesepakatan (Perjanjian Bersama) memiliki kekuatan hukum. Setelah terdaftar akan termuat pada akte perjanjian bersama, yang mengikat keduabelah pihak apabila ada salah satu pihak yang melanggar maka pihak yang merasa dilanggar perjanjiannya melaporkan permohonan eksekusi –> dengan adanya bukti-bukti yang mendukung (penetapan eksekusi) –> kemudian dilakukan eksekusi.

Arbitrase : adalah salah satu jenis alternatif penyelesaian sengketa dimana para pihak menyerahkan kewenangan kepada kepada pihak yang netral, yang disebut arbiter, untuk memberikan putusan. Dimana pihak yang berselisih harus patuh dan tunduk pada putusan yang dibuat karena keputusan ini bersifat final dan mengikat.

Sifat Arbitrase :
1. Adanya kesepakatan untuk menyerahkan penyelesaian sengketa-sengketa, baik yang akan terjadi maupun telah terjadi kepada seorang atau beberapa orang pihak ketiga di luar peradilan umum untuk diputuskan;
2. Penyelesaian sengketa yang bisa diselesaikan adalah sengketa yang menyangkut hak pribadi yang dapat dikuasai sepenuhnya, khususnya di sini dalam bidang perdagangan industri dan keuangan; dan
3. Putusan tersebut meupakan putusan akhir dan mengikat (final and binding).

Terhadap putusan arbitrase,salah satu pihak dapat mengajukan permohonan pembatalan kepada Mahkamah Agung dalam waktu selambat-lambatnya 30 (tiga puluh ) hari sejak ditetapkannya putusan arbitrase.

Arbitrase melayani perselisihan :

  • Perselisihan kepentingan
  • Perselisihan pemutusan hubungan kerja (PHK)
  • Perselisihan antar serikat pekerja dalam 1 perusahaan.

Konsiliasi,adalah penyelesaian perselisihan hubungan industrial melalui musyawarah yang ditengahi oleh seorang atau lebih konsiliator yang netral.

Jenis perselisihan hubungan industrial yang dapat diselesaikan melalui konsiliasi adalah:

1. perselisihan kepentingan;

2. perselisihan pemutusan hubungan kerja;dan

3. perselisihan antar serikat pekerja/buruh dalam satu perusahaan. Waktu penyelesaian melalui konsiliasi adalah 30 hari.
Mediasi hubungan industrial (mediasi) adalah penyelesaian perselisihan hubungan industrial melalui musyawarah yang ditengahi oleh seorang atau lebih mediator yang netral .

Sifat Mediasi :

  • Dalam waktu 10 hari mediator harus memanggil pihak yang berselisih untuk mulai menyelesaikan perselisihannya. Penyelesaian di depan mediator diupayakan perdamaian untuk mencapai pemufakatan. Mediator mempunyai waktu untuk menyelesaikan perselisihan 30 hari.
  • Apabila tidak sepakat maka mediator harus menciptakan putusan yang bersifat anjuran , dan kedua pihak yang berselisih dapat mengabaikan anjuran.
  • Apabila pihak yang berselisih tidak menerima anjuran maka dapat mengajukan gugatan ke pengadilan hubungan industrial.

Perselisihan hubungan industrial yang dapat diselesaikan melalui mediasi adalaha:

1. perselisihan hak;

2. perselisihan kepentingan;

3. perselisihan pemutusan hubungan kerja;dan

4. perselihan antar serikat pekerja/serikat buruh dalam satu perusahaan.

Pengadilan Hubungan Industrial (PHI)

adalah pengadilan khusus yang berkedudukan dibawah lingkungan peradilan umum / berada di pengadilan negri (pengadilan negri hanya terdapat di ibukota provinsi).

Karena gugatan perkara ini adalah perdata penyelesaian melalui pengadilan hubungan industrial (phi) selama-lamanya 60 hari, kecuali untuk perkara-perkara yang sulit pembuktiannya, hakim boleh memutuskan paling lama 6 bulan.

 

Daftar pustaka :

Materi kuliah semester 4 Pak Winanto SH

http://www.kennywiston.com

Materi P3K (Ir H Kartono W, MM, MT)


PENDAHULUAN

PERENCANAAN : Suatu metode untuk membuat dasar, pola, jalur, alur yang dapat digunakan untuk tuntunan dasar kerja atau dasar pengendalian.

PERENCANAAN YANG BAIK : Perencanaan yang baik terdiri dari 2 dasar, yaitu

  1. Dasar Pelaksanaan
  2. Dasar Kontrol

Perencanaan yang baik juga menjawab 4W+1H

  • Who  =  Siapa tenaga ahlinya
  • When = Lebih ke Time Schedulenya
  • Where = Manajemen lokasi, tempat kerja
  • Why  =  Mengapa lokasinya disitu ? alasan mengapa Time schedulenya demikian ? dll
  • How  = Metode kerjanya seperti apa? ??

Perencanaan yang baik mengandung :

  1. Tujuan yang jelas   =  Global
  2. Sasaran yang jelas =  Kualitatif
  3. Target yang jelas    =  Kuantitatif

Perencanaan proyek meliputi:

  1. BIAYA   = TEPAT BIAYA = tidak boleh melebihi anggaran (TIME SCHEDULE)
  2. MUTU =  TEPAT MUTU = Tidak boleh menyalahi spesifikasi (RAP dan RAB)
  3. WAKTU =  TEPAT WAKTU =  Tidak terlambat dari schedule yang ditentukan (RKS, gambar rencana, gambar kerja)

PENGENDALIAN

Tujuan Pengendalian = Adalah usaha meminimalkan penyimpangan agar sesuai dengan perencanaan.

Pengendalian Waktu

Untuk Pengendalian waktu dapat digunakan “Time Schedule”,  dengan adanya :

  1. Kurva S –> Dengan cara UPDATING dan ANALYSIS VARIAN
  2. Bar Chart

UPDATING = Menggambarkan/memperbarui TIME SCHEDULE umumnya mingguan.

ANALYSIS VARIAN = Membandingkan varian yang lama dan varian yang baru

Macam-macam solusi apabila terjadi keterlambatan waktu :

  1. Crassprogram
  2. Re-scheduling
  3. Re-engineering

Crassprogram : program khusus jangka pendek untuk mengejar ketinggalan. Catatan : Apabila ketertinggalan belum parah.(penambahan waktu  jam kerja, penambahan tenaga kerja)

Re-scheduling : Penjadwalan ulang, digunakan apabila keterlambatan sudah banyak, butuh persetujuan owner dan pengawas.

Re-engineering : Mengubah alat kerjanya (pacul menjadi excavator) mengubah bahannya (bekisting kayu plat menjadi bondek), mengubah metodenya.

Crassprogram dapat digabung dengan Re-engineering.

Dengan pengendalian mutu yang baik maka pekerjaan akan lebih cepat selesai, sehingga keuntungan yang didapat adalah :

  1. Menghemat biaya (manajemen, tukang) tapi juga ada uang lembur, karena pekerjaan cepat selesai
  2. Tenaga ahli dapat dialihkan pada proyek lainnya

Bagaimanakah bila keterlambatan terjadi pada lintasan kritis ????????

Keterlambatan pada lintasan kritis tidak masalah apabila masih ada waktu tenggangnya, tapi dari segi prestasi kurang baik !!!!!!!!


PERENCANAAN DAN PENGENDALIAN MUTU

Dasar perencanaan dan pengendalian mutu adalah RKS, gambar bestek dan lain-lain.

Alat Pengendalian Mutu dengan membuat tabel daftar mutu, yang diambil dari RKS, kegunaannya adalah untuk memudahkan dalam pengendalian mutu, daripada membuka RKS yang tebal dan mencari satu per satu.

Contoh tabel daftar mutu :

Pengendalian mutu :

  1. Evaluasi  :
  2. Pengamatan : Pengamatan atau pengawasan dilakukan langsung dengan mengamati seperti pekerjaan pembesian, pengecoran dan pemasangan bekisting.
  3. Uji Laboratorium : Sampel- sampel seperti beton di uji kekuatan tekannya di laboraturium dan baja di uji kekuatan tariknya.
  4. Laporan : Laporan harian, laporan mingguan, laporan bulanan dan laporan akhir yang dilengkapi dengan foto atau video.
  5. Meeting : Meeting dilakukan mingguan, bulanan, meeting khusus, setelah ada termin, PHO (pre hand over) atau FHO (final hand over).
  • PHO (Pre Hand Over) = adalah meeting yang dilaksanakan pada akhir pelaksanaan.
  • FHO (Final Hand Over) = adalah meeting yang dilakukan pada akhir masa pemeliharaan

Dan juga Konsultan perencana melakukan pengawasan berkala agar tau ada spec yang tidak sesuai dengan perencanaannya.

Setiap pendatangan material harus ada ijin kerja dan sample materialnya.

Perencanaan dan Pengendalian Biaya

Dasar perencanaan biaya adalah RAB, perencanaan dan pengendalian biaya dapat dilihat dari 2 sisi, yaitu :


Penjelasan gambar di atas adalah sebagai berikut :

  1. IDE : ide masih berupa gagasan belum direalisasikan jadi belum ada gambar dan perencanaannya adalah global.
  2. STUDI KELAYAKAN : Ide kemudian ditinjau sejauh mana kelayakannya untuk direalisasikan, dengan mempertimbangkan aspek manfaat dan biaya. Dengan menggunakan metode membandingkan antara proyek lama dan proyek baru dari segi mutu, index waktu, kapasitas, elemen dan lain2.
    ( penjelasan lebih detail di gambar di bawah)
  3. LAYAK : Layak berarti ide sudah teruji kelayakannya untuk direalisasikan.
  4. PERENCANAAN : Perencanaan meliputi perencanaan keuangan detail yang tidak menyimpang dari perencanaan global studi kelayakan.
  5. LELANG : Lelang dilaksanakan untuk mencari kontraktor sebagai pelaksana proyek, dengan berpedoman pada Engineer Estimate dan Owner Estimate agar kontraktor tidak sembarang menawar.
  6. PELAKSANAAN : Pengendalian keuangan owner yaitu dengan adanya jaminan dari kontraktor dan pembayaran termin yang diberikan sesuai dengan prestasi kerja kontraktor. contoh : prestasi 30% uang yang diberikan 25%.

Dari sisi kontraktor :

Dengan Penjelasan sbb :

  1. Lelang : Sebelum mengajukan penawaran harga ada baiknya pertama : mengecek harga pasar baik material, tenaga kerja dan peralatan. kedua, mengecek pajak resmi dan tidak resmi (tidak resmi ngemel dpr , dinas dll) ketiga, biaya operasional / manajemen yaitu tenaga ahli. keempat, biaya tidak terduga (transportasi, dll), kelima , perkirakan keuntungan anda umumnya 10%.
  2. Pelaksanaan : menyusun RAP yang nominalnya harus lebih kecil dari RAB agar kontraktor dapat keuntungan

OK ! semoga bermanfaat !!!!

materi kuliah semester 3


Download File mekanika tanah di bawah (Abdul Rochim ST,MT)

1. Tegangan Efektif

4. Rembesan #1

5. Rembesan #2

Download file IUT dibawah (Ir.Gata Dian A, MT)

1. Penginderaan jauh

2. Satuan arah dan penentuan posisi dalam IUT

3. kerangka pemetakan

I pendahuluan

IV Penginderaan jauh

pengukuran beda tinggi tacimetri

Contoh Soal Aliran melalui Pipa


Tentang Aliran melalui Pipa

SOAL

Air mengalir dari kolam A menuju kolam B melalui pipa sepanjang  150 m dan diameter  15 cm. Perbedaan elevasi muka air kedua kolam adalah 3 m. Koefisien gesekan Darcy – Weisbach f = 0,025.Hitung aliran kehilangan tenaga sekunder diperhitungkan :

PENYELASAIAN

  • Panjang pipa                      =             L = 150 m
  • Diameter pipa                   =             D = 15 cm = 0,15 m
  • Koefisien gerakan            =             f = 0,025
  • Kehilangan tenaga           =             H = 3,0 m

Kehilangan tenaga terjadi pada sambungan antara pipa dan kolam ( titik P dan Q ), dan di sepanjang pipa.

H             =             hep +  hf  + heQ

3              =             0,5 V2/2g+ 0,025 *150/15* V2/2g+ V2/2g

3              =             26,5 *V2/2g                                V = 1,49

Debit aliran

Q = AV

= Pi / 4 * ( 0,15 )2 * 1,49

= 0,0263 m3 /d

= 26,3  liter / detik

SOAL 2

Minyak dipompa melalui pipa sepanjang 4000 m dan diameter  30 cm dari titik A ke titik B.Titik B terbuka ke udara luar. Elevasi titik B adalah 50 m diatas titik A. Debit aliran 40 liter/detik . Rapat relative S = 0,9 dan kekentalan kinematik  2,1 x 10-4 m2/d. Hitung tekanan di titik A.

PENYELESAIAN

Diameter pipa : D = 30 cm = 0,3 m

Panjang pipa :  L = 4000 m

Debit aliran : Q = 40 l/d  = 0,04 m3/d

Kekentalan kinematik : v = 2,1 x 10-4 m2/d

Rapat relative : S = 0,9  à  ᵨ = 900 kg/m3

Elevasi ujung atas pipa (B) terhadap ujung bawah (A) : zA – zB = 50 m

Kecepatan aliran

V = Q/A  = 0,04/ 3,14 : 4 * 0,3 * 0,3  = 0,556 m/d

Angka Reynolds

Re = VD / v = 0,556*0,3 / 2,1 x 10-4 m2/d  = 808,6

Karena angka Reynold, Re < 2000 berarti aliran adalah laminar

Kehilangan tenaga

hf =  32 v*V*L / g*D2 = 32*2,1 x 10-4*0,566*4000  =  17,23 m

Dengan menggunakan persamaan Bernaoulli untuk kedua ujung pipa :

zA + pA/y + VA2 /2g = zB + pB/y + VB2 /2g

Dibuat garis refrensi melalui titik A. Karena tempang sepanjang pipa adalah seragam dan ujung pipa B terbuka ke udara luar, maka kecepatan aliran adalah seragam (VA = VB) dan pB = 0, sehingga :

0 + pA/y = 50 + 0 + 17,23

pA/y = 67,23 m

pA = 67,23 *y = 67,23 *900*9,81 = 593,574  N/m2 = 593,574 k Pa

Soal 3

Hitung kehilangan tenaga karena gesekan di dalam pipa sepanjang 1500 m dan diameter 20 cm, apabila air mengalir dengan kecepatan 2 m/d. Koefisien gesekan f = 0,02.

Penyelesaian

Panjang pipa :  L  =  1500 m

Diameter pipa : D  =  20 cm = 0,2 m

Kecepatan aliran :  V =  2 m/d

Koefisien gesekan : f = 0,02

Kehilangan tenaga dihitung dengan rumus berikut :

Pustaka :

Bambang Triadmojo, Penyelesaian hidraulika 2

CARA TES KEPADATAN STANDAR TANAH (COMPACTION TEST )


Compaction tes Tanah ini dilakukan untuk menentukan hubungan antara kadar air dan kepadatan tanah dengan memadatkandi dalam cetakan silinder berukuran tertentu dengan mengunakan alat penumbuk 2,5 kg (5,5 lbs) dan tinggi jatuh 30 cm ( 12” )

Pemeriksaan kepadatan standar dalpat dilakukan dengan 4 (empat) cara sebagai berikut :

Cara A : cetakan diameter 102 mm (4”) beban lewat saringan 4,75 mm (no.4)

Cara B : cetakan diameter 152 mm (6”) beban lewat saringan 4,75 mm (no.4)

Cara C : cetakan diameter 102 mm (4”) beban lewat saringan 19 mm (3/4”)

Cara D : cetakan diameter 102 mm (4”) beban lewat saringan 19 mm (3/4”)

PERALATAN UNTUK COMPACTION TEST ADALAH

  • Cetakan diameter 102 mm (4”) kapasitas 0,000943 atau kurang lebih 0,00003 m3 dengan diameter dalam 101,6 mm, tinggi 116,43 kurang lebih 0,1270 mm.
  • Cetakan diameter 152 mm, kapasitas 0,00124 kurang lebih 0,000021 m3, dengan diameter dalam 152,4 kurang lebih 0,660 mm, tinggi 116,43 kurang lebih 0,1270 mm. cetakan harus dari logam yang mempunyai dinding teguh dan dibuat sesuai dengan ukuran di atas. Cetakan harus dilengkapi dengan leher sambung dibuat dari bahan yang sama, dengan tingi ± 60 mm. yang dipasang kuat tetapi bisa dilepaskan .
  • Catakan cetakan yang sudah dipergunakan beberapa lama sehingga tidak memnuhi syarat toleransi di atas masih dapat di pergunakan bila toleransi tersebut tidak melampaui lebih dari 50%.
  • Alat tumbuk tangan dari logam yang mempunyai permukaan tumbuk rata diameter 50,8 ± 0,127 mm (2,00” ± 0,005”) berat selubung yang bisa mengatur tinggi jatuh secara bebas setinggi 304,8 ± 1,524 mm (12,00” ± 0,06”).

Selubung harus sedikitnya mempunyai 2 @ 4 buah lubang udara yang berdiameter tidak lebih kecil dari 9,5 mm (3/8”) dengan poros tegak lurus satu sama lain berjarak 19mm dari kedua ujung. Selubung harus cukup longgar sehingga batang penumbuk dapat jatuh bebas tidak terganggu.

  • Dapat juga dipergunakan alat tumbuk mekanis, dari logam yang dilengkapi alat pengontrol tinggi jatuh bebas 304,8 ± 1,524 mm (12,00” ± 0,06”). Dan dapat membagi bagi tumbukan secara merata di atas permukaan.

Alat penumbuk harus mempunyai permukaan tumbuk yang rata berdiameter 50,8 ± 0,127 mm (2,00” ± 0,005”)  dan berat 2,495 ±  0,009 kg (5,50 ± 0,02 lb).

  • Alat untuk mengeluarkan contoh.

Timbangna kapasitas 11,5 dengan ketelitian 5 gram.

Oven yang dilengkapi pengatur suhu (110)

  • Alat perata dari besi strength edge panjang 2,5 cm salah satu sisi memanjang harus tajam dan sisi lain datar (0,01 % dari panjang)
  • Saringan 5mm (2”), 19mm (3/4”), 4,75mm (no.4)
  • Talam, alat pengaduk, dan sendok.

BENDA UJI UNTUK COMPACTION TEST

Bila contoh tanah yang diterima dari lapangan masih dalam keadaan lembab (damp), keringkan contoh tersebut hingga menjadi gembur. Pengeringan dapat dilakukan di udara atau dengan alat pengering lain dengan suhu tidak lebih dari 60. Kemudian gumpalan gumpalan tanah tersebut ditumbuk tetepi butir aslinya tidak pecah.

Tanah yang gembur disaring dengan saringan 4,75 mm (no.4) untuk cara A dan B, serta saringan19 mm (3/4”) untuk cara C dan D.

Jumlah contoh yang sesuai untuk masing masing cara pemeriksaan adalah sebagai berikut :

Cara A sebanyak 15 kg

Cara B sebanyak 45 kg

Cara C sebanyak 30 kg

Cara D sebanyak 65 kg

Benda uji dibagi menjadi 6 bagian dan tiap tiap bagian dicampur dengan air yang ditentukan dan diaduk sampai merata.

Pemambahan air diatur sehingga didapat benda uji sebagai berikut :

  • Tiga contoh dengan kadar air kira kira di bawah optimum
  • Tiga contoh dengan kadar air kira kira di atas optimum

Perbedaan kadar air dari benda uji masing masing antara 1 s/d 3 %

Masing masing benda uji dimasukkan ke dalam kantong  plastic dan disimpan selama 12 jam atau sampai kadar airnya merata.

CARACOMPACTION TEST PADA TANAH ADALAH

COMPACTION TEST Cara A :

i.            Timbang cetakan diameter 102 mm (4”)  dan keeping alas dengan ketelitian 5 gram  (B1) gram.
ii.            Cetakan leher dan keeping alas dipasang menjadi satu dan ditempatkan pada landasan yang kokoh.
iii.            Ambil salah satu dari keenam contoh diaduk dan dipadatkan dalam cetakan dengan cara sebagai berikut :
Jumlah seluruh tanah yang dipergunakan harus tepat sehingga kelebihan tanah yang diratakan setelah leher lepas tidak lebih dari 0,5 cm.
Pemadatan dilakukan dengan alat penumbuk standar 2,5 kg (5,5 poud) dengan tinggi jatuh 30,5 cm (12”) tanah dipadatkan dalam tiga lapisan dan tiap tiap lapisan dipadatkan dengan 25 tumbukan.
iv.            Potong kelebihan tanah dari bagian keliling leher , dengan pisau dan lepaskan leher sambung.
v.            Pergunakan alat perat untuk meratakan kelebihan tanah sehingga betul betul rata dengan permukaan cetakan.
vi.            Timbang cetakan berisi benda uji beserta keping alas dengan ketelitian 5 gram (B2) gram.
vii.            Keluarkan benda uji tersebut dari cetakan dengan mempergunakan alat pengeluar benda uji (extruder) dan potong sebagian kecil dari benda uji pada keseluruan tingginya untuk pemeriksaan kadar air (w) dari benda uji sesuai dengan PB -0210 – 76.

.

COMPACTION TEST Cara B :
i.            Timbang cetakan 152 mm (6”) dan keeping alas dengan ketelitian 5 gram (B1) gram.
ii.            Cetakan, leher dan keeping alas dipasang menjadi satu dan tempatkan pada landasan yang kokoh.
iii.            Ambil salah satu dari keenam contoh, diaduk dan dipadatkan dalam cetakan dengan cara sebagai berikut :
Jumlah seluruh tanah yang dipergunakan harus tepat sehingga kelebihan tanah yang diratakan setelah leher lepas tidak lebih dari 0,5 cm.
Pemadatan dilakukan dengan alat penumbuk standar 2,5 kg (5,5 poud) dengan tinggi jatuh 30,5 cm (12”) tanah dipadatkan dalam tiga lapisan dan tiap tiap lapisan dipadatkan dengan 56 tumbukan.

iv.            Potong kelebihan tanah dari bagian keliling leher , dengan pisau dan lepaskan leher sambung.
v.            Pergunakan alat perat untuk meratakan kelebihan tanah sehingga betul betul rata dengan permukaan cetakan.
vi.            Timbang cetakan berisi benda uji beserta keping alas dengan ketelitian 5 gram (B2) gram.
vii.            Keluarkan benda uji tersebut dari cetakan dengan mempergunakan alat pengeluar benda uji (extruder) dan potong sebagian kecil dari benda uji pada keseluruan tingginya untuk pemeriksaan kadar air (w) dari benda uji sesuai dengan PB -0210 – 76.

COMPACTION TEST Cara  C :
i.            Timbang cetakan diameter 102 mm (4”)  dan keeping alas dengan ketelitian 5 gram  (B1) gram.
ii.            Cetakan leher dan keeping alas dipasang menjadi satu dan ditempatkan pada landasan yang kokoh.
iii.            Ambil salah satu dari keenam contoh diaduk dan dipadatkan dalam cetakan dengan cara sebagai berikut :
Jumlah seluruh tanah yang dipergunakan harus tepat sehingga kelebihan tanah yang diratakan setelah leher lepas tidak lebih dari 0,5 cm.
Pemadatan dilakukan dengan alat penumbuk standar 2,5 kg (5,5 poud) dengan tinggi jatuh 30,5 cm (12”) tanah dipadatkan dalam tiga lapisan dan tiap tiap lapisan dipadatkan dengan 25 tumbukan.

iv.            Potong kelebihan tanah dari bagian keliling leher , dengan pisau dan lepaskan leher sambung.
v.            Pergunakan alat perat untuk meratakan kelebihan tanah sehingga betul betul rata dengan permukaan cetakan.
vi.            Timbang cetakan berisi benda uji beserta keping alas dengan ketelitian 5 gram (B2) gram.
vii.            Keluarkan benda uji tersebut dari cetakan dengan mempergunakan alat pengeluar benda uji (extruder) dan potong sebagian kecil dari benda uji pada keseluruan tingginya untuk pemeriksaan kadar air (w) dari benda uji sesuai dengan PB -0210 – 76.

COMPACTION TEST Cara  D :
i.            Timbang cetakan diameter 102 mm (4”)  dan keeping alas dengan ketelitian 5 gram  (B1) gram.
ii.            Cetakan leher dan keeping alas dipasang menjadi satu dan ditempatkan pada landasan yang kokoh.
iii.            Ambil salah satu dari keenam contoh diaduk dan dipadatkan dalam cetakan dengan cara sebagai berikut :
Jumlah seluruh tanah yang dipergunakan harus tepat sehingga kelebihan tanah yang diratakan setelah leher lepas tidak lebih dari 0,5 cm.
Pemadatan dilakukan dengan alat penumbuk standar 2,5 kg (5,5 poud) dengan tinggi jatuh 30,5 cm (12”) tanah dipadatkan dalam tiga lapisan dan tiap tiap lapisan dipadatkan dengan 56 tumbukan.

iv.            Potong kelebihan tanah dari bagian keliling leher , dengan pisau dan lepaskan leher sambung.
v.            Pergunakan alat perat untuk meratakan kelebihan tanah sehingga betul betul rata dengan permukaan cetakan.
vi.            Timbang cetakan berisi benda uji beserta keping alas dengan ketelitian 5 gram (B2) gram.
vii.            Keluarkan benda uji tersebut dari cetakan dengan mempergunakan alat pengeluar benda uji (extruder) dan potong sebagian kecil dari benda uji pada keseluruan tingginya untuk pemeriksaan kadar air (w) dari benda uji sesuai dengan PB -0210 – 76.

RUMUS PERHITUNGAN COMPACTION TEST

  1. Hitung berat isi tanah dengan mempergunakan rumus berikut :

  1. Berat isi kering tanah  dengan mempergunakan rumus berikut :

http://www.ilmusipil.com/category/mekanika/mekanika-tanah/

Presentasi Jembatan


21173129-power-point-bangunan-jembatan-teknik-sipil

Teknologi Bahan Konstruksi ( Kayu )


KLIK DI BAWAH YA 🙂

oleh : Pak Rachmat , Dosen Unissula

Kuliah – 1 Kayu

GAMBAR REKAYASA


oleh : Ir. H. Soedarsono.,MSi ( Dosen Fak teknik sipil UNISSULA )

GAMBAR PERENCANA

Adalah gambar pekerjaan teknik yang direncanakan oleh Konsultan Teknik setelah mendapat masukan dari user.

GAMBAR PELAKSANAAN

Adalah gambar rencana yang dilengkapi gambar kerja dan gambar detail, gambar ini dipakai acuan untuk pelaksanaan pekerjaan Teknik sipil.

GAMBAR RENCANA DETAIL

Adalah gambar dengan skala 1:10, 1:5, gambar ini digunakan untuk pekerjaan yang dianggap sulit, perlu diperbesar supaya mudah pelaksanaannya

GAMBAR KERJA

Adalah suatu rencana kerja untuk memperagakan suatu pekerjaan teknik sipil, gambar kerja harus jelas, mencantumkan data-data yang memberikan keterangan yang lengkap dan tepat. Misal : bentuk ukuran, konstruksi, jenis bahan dan finishing.

Pada pekerjaan khusus harus dibuat gambardetail dengan skala 1:10, 1:5 bahkan 1:1 misal pada pekerjaan konstruksi baja

GAMBAR BESTEK

Adalah gambar keseluruhan untuk melaksanakan pekerjaan Teknik Sipil meliputi : gambar situasi, daerah, tampak potongan dan detail pada jenis-jenis tertentu

Skala yang digunakan 1:500, 1:200, 1:100, 1:50, 1:10, 1:5 ( tergangtung kebutuhan

MENGGAMBAR TEKNIK

Adalah suatu bahasa grafik yang digunakan diseluruh dunia, yang biasanya dapat menyatakan sesuatu lebih jelas dari kata-kata

Setiap garis, gambar dan simbol mempunyai fungsi dan pengertian tertentu

2.UKURAN KERTAS

X x Y = 841 mm x 1189 mm

Dari rumus diatas maka untuk kertas A0 ukurannya adalah 841 mm x 1189 mm

I. DENAH

Pada gambar denah, bagian dari bangunan yang di atas 1 m dari lantai ± 0,00 tidak digambar. Denah menggambarkan pembagian ruangan-ruangan, letak-letak pintu dan jendela, bentuk dan ukuran lantai ruangan, dapat diberi garis atap yang digambar dengan garis titik-titik. Skala 1 : 100.

II. TAMPAK

Gambar tampak yang harus dibuat adalah T. Muka, T. Belakang, T. Samping Kiri dan T. Samping Kanan. Skala gambar sama dengan skala denahnya.

III. POTONGAN

Gambar potongan menggambarkan bagian dalam dari ruangan dan fondasinya, digambar dalam dua arah, yaitu arah muka-belakang dan arah samping kiri dan kanan bangunan.

IV. RENCANA FONDASI

Menggambarkan tipe dan ukuran fondasi yang dipakai. Semua bagian yang ada fondasinya harus digambarkan lengkap. Yang digambar adalah lebar atas dan lebar dasar dari pada fondasi yang dipakai dengan diberi garis temboknya.

V. RENCANA ATAP

Pada gambar ini dijelaskan letak kuda-kuda, balok gording, usuk dan juga bahan penutup atapnya, apabila ada juga digambar talang dan lobang buangannya, garis bubungan, jurai luar dan jurai dalam diberi penjelasan dan digambar dengan garis khusus

VI. RENCANA PLAFON

Menggambarkan pembagian petak-petak dari pada plafonnya di setiap ruangan. Rangka plafon digambarkan lengkap dengan balok induk, balok pembagi dan ukuran kayu yang dipakai. Skala gambar sama dengan skala denahnya.

VII. RENCANA SANITASI

Rencana sanitasi menggambarkan letak-letak lobang buangan pada kamar mandi, WC, dapur, bak cuci dan temapt buangan lainnya. Arah aliran saluran pembuang diberi anak panah yang menunjukkan arah aliran airnya. Letak bak kontrol, bak penangkap lemak, septic tank, sumur air bersih dan peresapannya digambar dan jaraknya ditulis jelas

VIII. GAMBAR DETAIL

  1. Detail FONDASI : menggambarkan bentuk potongan melintang dan ukurannya serta letak kedalaman dari pada fondasi yang dipakai.
  2. Detai KUDA-KUDA : menggambarkan bentuk kuda-kuda yang dipakai dan penjelasan sambungan-sambungannya, ukuran kayu-kayu yang dipakai ditulis jelas dan lengkap, apabila bentuk kuda-kuda yang dipakai lebih dari satu, harus digambar semuanya.
  3. Detail PLAFON : menjelaskan bentuk dan ketinggian plafon, sambungan kayu penggantung dan ukurannya ditulis lengkap dan diberi penjelasan secukupnya.
  4. Detai KOSEN : semua bentuk kosen pintu dan jendela yang dipakai harus digambar di sini, ukuran kosen dan kayu yang dipakai ditulis lengkap dan jelas, apabila ada sambungan kosen yang harus dibuat khusus, harus juga digambar detailnya.
  5. Detail SANITASI : menggambarkan potongan melintang dan tampak atas dari pada bak kontrol, bak penangkap lemak, septic tank, sumur peresapan, dan juga penjelasan pembuangan dari semua alat penerima air buangan, semua ukuran dan bahan yang dipakai ditulis lengkap dan jelas.
  6. Detail bagian bangunan yang lain yang dianggap penting dan memerlukan pekerjaan

IX.  SITUASI

Gambar situasi menggambarkan bentuk dari tanahnya dan juga ukurannya, letak terhadap suatu jalan yang ada didekatnya ditulis nama jalan tersebut, denah bangunan di atas tanah tersebut diberi warna hitam, pada gambar situasi diberi arah mata angin.